TENTANG KOLAM BESAR, IKAN KECIL DAN KEHIDUPAN YANG TENANG
Namanya Truong, tapi kami memanggilnya Pak Cong.
Beliau adalah tetangga baru yang pindah dari Amerika Serikat, memboyong keluarganya ke sebuah desa kecil yang tenang di Sleman.
Suatu ketika, saat lesehan santai di kedai, beliau bercerita.
Di San Francisco, pendapatan keluarga sebesar $100.000 per tahun bisa masuk dalam kategori garis kemiskinan.
Kurang lebih Rp180 juta per bulan.
Itu pun masih dianggap berada di sekitar garis kemiskinan.
Betapa tingginya biaya hidup di San Francisco.
Kalau penghasilan sebesar itu digunakan untuk tinggal di Sleman?
UMR Sleman sekitar Rp2 jutaan per bulan. Silakan dihitung sendiri. Kalau hitungan saya biaya sebulan di SanFranscisco bisa untuk hidup di Sleman 90 bulan .
***
Pada kesempatan lain, saat acara pembukaan Pendidikan Organik Sekolah Alam Yogyakarta, Pak Cong melanjutkan ceritanya.
Walaupun lahir di Vietnam, sejak usia 2 tahun beliau diajak pindah ke Amerika Serikat.
Orang tuanya adalah bagian dari eksodus akibat perang Vietnam. Tercatat lebih dari 800.000 orang Vietnam meninggalkan negaranya. Banyak di antaranya melalui laut, menggunakan kapal seadanya.
Hanya sekitar 400.000 orang yang berhasil selamat sampai ke negara tujuan.
Di Amerika, Pak Cong dibesarkan dengan pesan yang sangat kuat dari orang tuanya:
“You must survive here.”
Don’t talk to anyone.
Don’t trust anyone.
Get good grades.
Get good career.
You must survive here.
Dan Pak Cong memang berhasil.
Beliau mendapatkan karier yang baik di Amerika. Secara finansial berhasil membangun kehidupan di sana. Ia juga membangun keluarga bersama istrinya yang berasal dari Sumatra Barat dan memiliki dua anak.
Namun, seiring berjalannya waktu, menjadi keluarga Muslim di Amerika Serikat tidak selalu mudah.
Terutama ketika memikirkan lingkungan dan tumbuh kembang anak-anak mereka.
Maka dimulailah pencarian.
Mencari lingkungan yang lebih aman, lebih tenang, dan lebih baik untuk pertumbuhan anak-anaknya.
Sampai akhirnya mereka memilih pindah ke sebuah desa kecil di Sleman.
***
Sekarang, anak pertama Pak Cong terlihat sangat bahagia.
Bagaimana tidak?
Ia bisa bebas mengeksplorasi kehidupan desa dan alam di sekitarnya.
Ia tumbuh di lingkungan dengan tetangga yang saling mendukung, bukan kultur individual seperti yang selama ini mereka rasakan di Amerika.
Kisah perpindahan Pak Cong kemudian mengingatkan saya pada sebuah gagasan dari Alain de Botton:
“Daripada berusaha menjadi ikan besar di kolam yang besar, mungkin lebih baik mencari kolam kecil dan kemudian berkembang bersama-sama di dalamnya.”
Saya dulu pernah berada dalam fase ketika saya ingin mencari kota-kota besar.
Kemudian menjadi “penakluk” di kota tersebut.
“Aku akan taklukkan Jakarta.” “Aku akan taklukkan Amsterdam and Silicon Valley.”
Seolah-olah hidup adalah sebuah perlombaan untuk menjadi ikan yang paling besar di kolam yang paling besar.
Tapi ternyata ada cara hidup yang lain.
Cara hidup yang mungkin lebih damai.
Lebih tenang.
Lebih menikmati proses.
***
Konsekuensi dari berusaha menjadi ikan besar di kolam yang besar adalah semakin kuatnya individualisme.
Dan individualisme yang berlebihan bisa menjadi jalan menuju stres, kecemasan, rasa rendah diri ketika kalah, bahkan kesombongan ketika menang. Padahal semuanya dapat dengan mudah hilang.
Sementara pilihan untuk hidup di kolam yang lebih kecil dan berkembang bersama-sama di dalamnya dapat menumbuhkan hal yang berbeda:
gotong royong, kebersamaan, tepo seliro, kemampuan memahami perasaan orang lain, dan menggunakan rasa dalam berkomunikasi.
Berkembang bersama-sama menciptakan perasaan bahwa saya tidak sendirian.
Bahwa sumber daya tidak harus dikuasai sendiri, tetapi bisa dibagi-bagi.
Dan yang paling penting:
ada perasaan bahwa diri ini merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
***
Semua ini kemudian mengingatkan saya pada sesuatu yang dulu disebutkan oleh guru saya sebagai “lezatnya ilmu.”
Saya sering membayangkan:
Kalau saja saya mengetahui ilmu-ilmu seperti ini 20 tahun yang lalu, mungkin saya bisa menghindarkan diri dari bertahun-tahun hidup dalam stres dan berbagai permasalahan hidup yang sebenarnya justru saya ciptakan sendiri melalui pilihan-pilihan saya.
Saya rasa ada banyak energi, waktu, pikiran, dan sumber daya yang bisa diselamatkan.
Karena itu saya menginisiasi BelajarHidup.
Sebagai sebuah cara bagi saya untuk terus belajar mempersiapkan kehidupan selanjutnya.
Dan mudah-mudahan, ilmu-ilmu yang kita pelajari bersama juga bisa sampai kepada anak-anak saya.
Supaya mereka memiliki bekal untuk mengambil pilihan2 hidup yang bijaksana. Pilihan2 yang menghindarkan mereka dari masalah2 yang akan menghabiskan bertahun-tahun hidup, energi, pikiran, dan sumber daya hanya karena mereka belum memahami ilmu-ilmu fundamental tentang kehidupan.
BelajarHidup adalah sebuah ruang untuk belajar bersama2 yang ingin dikonsistenkan setiap Senin Malam.
***
Minggu lalu, kita berbicara tentang Uang melalui Psychology of Money dari Morgan Housel.
Kemudian tentang Status Anxiety melalui pemikiran Alain de Botton.
Senin besok, kita akan melanjutkan dengan membahas persoalan flexing, konsumsi, dan trend untuk menonjolkan status.
Kali ini, kita akan melihatnya melalui pemikiran Thorstein Veblen dalam bukunya:
The Theory of the Leisure Class.
Senin malam nanti, kita akan bersama2 melihat sebuah fenomena yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di dunia nyata maupun di media sosial, kita terus disodorkan berbagai macam “pertunjukan status.”
Status kemewahan.
Status kenikmatan.
Status keluangan waktu.
Status kesuksesan.
Bahkan status kesempurnaan.
Dan ketika melihat semua itu, apa yang kemudian muncul?
Rasa iri.
Rasa rendah diri.
Overthinking.
Stres.
Seseorang melihat keberhasilan orang lain, kemudian mulai menginginkan keberhasilan yang sama, dengan menggunakan parameter eksternal yang sama.
Padahal kehidupan manusia sangat beragam.
Ukuran keberhasilan tidak harus selalu sama.
Parameter kesuksesan yang berasal dari dalam diri dan pemaknaan terhadap kehidupan mungkin justru jauh lebih menentramkan dibandingkan parameter eksternal yang harus susah payah dikejar, dan sewaktu-waktu bisa hilang.
***
Memahami pemikiran Thorstein Veblen membantu kita untuk melihat bahwa ada sebuah permainan sosial yang sedang berlangsung.
Permainan tentang status.
Tentang siapa yang terlihat lebih berhasil.
Tentang siapa yang memiliki lebih banyak.
Tentang siapa yang hidupnya terlihat lebih indah.
Dan setelah menyadari adanya permainan itu, muncul sebuah pertanyaan:
Apakah permainan itu memang harus dimainkan?
Lalu saya kembali teringat pada anak-anak.
Kalau dunia sekarang saja sudah seperti ini, bagaimana dunia yang akan mereka hadapi nanti?
Mungkinkan jika kebijaksanaan seperti ini bisa dipelajari sekarang, maka sebagian darinya bisa diwariskan kepada anak-anak nantinya.
Supaya mereka tidak mudah terjerat dalam permainan yang menarik ini.
Sebuah permainan yang tanpa disadari bisa menghabiskan tahun-tahun produktif kehidupan untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah selesai dan cepat hilang.
Bagi yang merasakan frekuensi dan tarikan yang sama untuk belajar bersama, monggo bisa hadir di:
BelajarHidup #8
Kenapa Harus Selalu Terlihat Sukses?
The Theory of the Leisure Class — Thorstein Veblen
Senin, 31 Agustus 2026
19.30 WIB
Online: bit.ly/belajarhidup

Leave a Reply