Belajar Hidup #7

Ketika Satu Anak Lupa Lirik, Semua Keluarga Ikut Bernyanyi

Ada satu magical moment di Pasar Sayogya kemarin yang sampai sekarang masih saya ingat.
Waktu itu ada seorang anak yang sedang bernyanyi, kemudian tiba-tiba lupa lirik.

Hening sebentar.

Lalu entah siapa yang memulai, anak-anak lain ikut membantu bernyanyi.
Satu suara menjadi beberapa suara. Bahkan bukan hanya anak2, tapi juga para orang tua yg hadir ikut bernyanyi.
Yang tadinya lupa lirik, akhirnya bisa melanjutkan lagi, bukan sendirian tapi bersama2.

Kemudian moment itu menjadi momen menyanyi bersama-sama semua keluarga yang hadir.
Seolah2 kami semua ada dalam sebuah perjalanan yang sama. Proses yang sama. Ritme yang sama.
Kami, adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kami sendiri.

Simple moment, but soo Warm and Magical…

Saya kemudian berpikir, mungkin memang seperti inilah seharusnya sebuah keluarga berjalan.

Anak yang tampil bukanlah simbol kesuksesan orang tuanya.
Bukan pajangan yang harus selalu terlihat hebat dan mengkilap.
Bukan sekedar jadi proyek kebanggaan dan stories di Instagram.

Tapi bagian dari proses keluarga yang sedang belajar bersama-sama.

Momen kecil di Pasar Sayogya itu kemudian terasa sangat dekat dengan apa yang sedang saya pelajari tentang Status Anxiety dari Alain de Botton.

Menurut de Botton, dicintai berarti merasakan diri kita sebagai objek perhatian: kehadiran kita diperhatikan, nama kita diingat, pandangan kita didengarkan, kekurangan kita diterima dengan lapang dada, dan kebutuhan kita diperhatikan.

Dan mungkin karena kebutuhan itu begitu mendasar, tapi tidak terpenuhi akhirnya ada dalam satu kondisi Bernama lovelessness. Kondisi kekurangan cinta.
Untuk memenuhinya manusia kemudian mencari hal2 eksternal diluar dirinya.

Ada yang mengejar uang, jabatan, popularitas, prestasi, likes, follower, dan status2 eksternal lainnya.

Kondisi Lovelessness sebenarnya menampilkan kebutuhan sederhana:
“Tolong anggap saya penting.”
“Tolong lihat saya.”
“Tolong hargai saya.”

Menariknya waktu kecil, seorang anak tidak perlu menjadi juara kelas untuk disayang.
Tidak perlu memenangkan lomba.
Tidak perlu punya pekerjaan bagus.
Tidak perlu punya mobil.
Tidak perlu punya rumah.
Tidak perlu punya penghasilan sekian puluh juta.

Dia cukup menjadi dirinya sendiri.

Tetapi semakin dewasa, manusia mulai mengenal dunia yang mengatakan:
Kamu akan dipuji kalau berprestasi, sukses, punya jabatan, punya uang dan berbagai syarat2 lainnya.

Seolah-olah kasih sayang dan penghargaan itu bersyarat, harus dibeli dengan pencapaian.

De Botton menyebutnya dengan kalimat yang sangat kuat:

“Only as we mature does affection begin to depend on achievement.”

Alain de Botton menyebut lovelessness sebagai salah satu sumber status anxiety: ketika kita merasa tidak dicintai, tidak dihargai, tidak dianggap penting, kita menjadi haus akan perhatian dan pengakuan.

Senin malam nanti kita akan belajar Bersama untuk mengetahui penyebab2nya, dan bagaimana menangani hal ini.

Mengapa seseorang begitu mudah membandingkan diri.
Mengapa kesuksesan orang lain kadang membuat diri merasa kecil.
Mengapa ada orang yg terus merasa belum cukup.
Dan mengapa status sosial bisa begitu kuat memengaruhi rasa berharga seseorang.

Bagi yang tertarik bergabung bisa hadir di:

BelajarHidup #7
Kenapa Hidup Orang Lain Selalu Terlihat Lebih Baik?
Status Anxiety — Alain de Botton

Senin, 24 Agustus 2026
20.00 WIB
Online: bit.ly/belajarhidup
www.belajarhidup.id


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *