BelajarHidup #5

Hidup Semakin Mudah, Tapi Kenapa Banyak Orang Semakin Lelah?

Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan manusia modern.

Teknologi membuat banyak hal menjadi jauh lebih mudah. Ada AI, Google, WhatsApp, berbagai aplikasi, pekerjaan yang bisa dilakukan dari mana saja, dan hiburan yang bisa diakses kapan saja.

Tapi ternyata, kemudahan tidak otomatis membuat hidup terasa lebih ringan.

Manusia modern justru sering berhadapan dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan teknologi:

Apa sebenarnya yang layak dikejar?
Kapan seseorang bisa merasa cukup?
Bagaimana menjalani hidup, bukan sekadar mengoptimalkannya?

Dari sinilah kita masuk ke pemikiran Kyoto School.

Menariknya, para filsuf Kyoto School tidak sekadar memilih antara Barat atau Timur. Mereka mencoba mempertemukan keduanya.

Barat memberi kita kemampuan untuk berpikir, menganalisis, dan memahami.

Tradisi Timur mengingatkan kita untuk mengalami, menghayati, dan melihat keterhubungan kehidupan.

Lalu muncul tiga gagasan yang menurut saya sangat relevan dengan kehidupan manusia modern:

🌿 Pure Experience — Nishida Kitarō

Kita sering terlalu banyak hidup di dalam kepala: memberi label, menilai, membandingkan, memikirkan masa lalu dan masa depan.

Padahal, sebelum semua pikiran itu muncul, ada pengalaman yang sebenarnya sedang berlangsung.

Melihat matahari terbenam.
Mendengar hujan.
Bermain bersama anak.
Berjalan di alam.

Bisakah manusia sesekali berhenti memberi komentar terhadap kehidupan dan benar-benar mengalaminya?

🌿 Metanoetics — Hajime Tanabe

Manusia modern juga sering percaya bahwa kalau cukup pintar, cukup bekerja keras, dan cukup menguasai keadaan, semua masalah bisa diselesaikan.

Tapi hidup kadang membawa kita pada titik ketika cara itu tidak lagi cukup.

Kegagalan, kehilangan, atau krisis bisa menjadi kesempatan untuk menyadari:

“Ternyata saya terbatas.”

Dan justru dari pengakuan terhadap keterbatasan itu, perubahan bisa dimulai.

🌿 Emptiness — Nishitani Keiji

Kita sering membangun hidup berdasarkan “aku”.

Aku harus sukses.
Aku harus punya ini.
Aku harus mempertahankan statusku.
Aku takut kehilangan apa yang sudah kumiliki.

Nishitani mengajak melihat lebih dalam: manusia sebenarnya tidak pernah berdiri sendiri.

Diri terbentuk melalui hubungan dengan keluarga, masyarakat, alam, sejarah, dan kehidupan itu sendiri.

Ketika kita melihat keterhubungan itu, mungkin kita tidak lagi harus menggenggam kehidupan terlalu erat.

Dan akhirnya, diskusi malam itu membawa kita kembali pada satu pertanyaan sederhana:

Mungkin hidup yang baik bukan hanya tentang mendapatkan lebih banyak, tetapi tentang mengalami kehidupan dengan lebih dalam.

Bukan berarti berhenti punya ambisi.

Bukan berarti berhenti berusaha.

Tetapi mungkin belajar menemukan keseimbangan antara mengejar dan menerima, berpikir dan mengalami, berusaha dan melepaskan.

Itulah yang kami coba pelajari bersama di BelajarHidup.

Bukan mencari jawaban yang paling benar.

Tapi mencoba melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, lalu bertanya:

“Apa yang bisa saya bawa dari sini untuk menjalani hidup saya sendiri?” 🌿


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *